Senin, 07 Mei 2012

Rahasiaku dengan Tuhan

”Ya Allah…dari setiap tetes air mataku yang mengalir saat ini atau sebelumnya, dari suara gerak bibirku selama aku masih mampu menggerakkannya, dan dari setiap detak jantungku selama Kau masih menghendakinya, kuniatkan hanya untukMu Ya Allah….”, ”Tunjukkan aku jalanMu, sinari hatiku melebihi sinar matahariMu, agar aku mampu mengemban setiap amanahMu”.

”Sudah berusaha kutujukan tiap perasaan dan ingatanku kepadaMu, tapi aku tidak bisa mengelak jika ada perasaan lain yang tanpa sengaja terkadang mengganggu dan mengurangi dzikirku, cintaku pada hambaMu. Hamba yang sudah Engkau ciptakan secara berpasangan, yang sudah Engkau janjikan”.

”Aku mencintainya….”,”Kau sudah menanamkan cinta di setiap dada manusia, hingga cinta itu subur bercabang dengan ranting perasaan suci dan bahkan menjadi nafsu yang menyesatkan. Aku tidak mau cintaku kepada yang lain mengalahkan cintaku padaMu. Maka ridhailah cintaku………”, kuakhiri doaku dengan tangis tersedu tak mampu menahan rasa berdosa telah menduakan cinta kepada Allah.

”Izinkan aku menangisi cinta selain padaMu…sekali ini saja…

Saat aku membuka mata dari tidur yang melelapkanku, hal pertama yang kuingat seharusnya hanya Allah, tapi tidak begitu kenyataannya. Akhir-akhir ini aku sering terbangun dari tidurku karena mimpi yang berujung pada bisikan namanya. Sungguh aku ingin menghindarinya, aku tidak ingin imanku lemah karena terus mengingat nama dan wajah yang menjadi sebab konflik batin di hatiku.

Aku merasa sebagai seorang yang munafik karena tampil dengan jubah malaikat padahal hatiku penuh iblis dan otakku sesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru bertentangan dengan apa yang selama ini aku pelajari dan aku ajarkan pula kepada orang lain. Aku serukan kepada mereka untuk tidak mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah, untuk tidak merasa tentram kepada selain Allah dan untuk senantiasa bernafas dengan lafadz Allah sebagai oksigen dan Muhammad sebagai karbondioksidanya. Aku merasa telah mendustai kata-kataku sendiri, tidak lebih dari seorang penyair yang mampu merangkai kata-kata indah untuk menutupi kebohongan-kebohongan menyesatkan di balik syair yang mereka tuliskan. Saat aku renungi ini sebelum tidurku, aku tak mampu pejamkan mata karena airnya memenuhi setiap sudut dalam kelopak mataku. Kuredakan semuanya dengan shalat dan doa karena hanya itu penawarnya.


Kini aku berlutut di hadapanMu,

Menumpahkan luap pinta di dadaku, 
Cintakan aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku untuk semakin mencintaiMu. 
Izinkan aku menyentuh hati seseorang yang tertaut hatinya padaMu, agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu.
Rindukan aku pada seseorang yang merindukan syahid di jalanMu, 
Biarkan hatiku menuntaskan kerinduan hanya kepadaMu.


”Rabb, kumohon tuntunlah tiap perasaan, pemikiran dan langkahku. Ke manapun Engkau kehendaki, kuturuti…karena itu pasti yang terbaik untukku…”

Aku tidak suka air mata, kecuali yang menetes dalam doa…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar