Kamis, 12 Januari 2017

Paper AKN dan Kelompok 5

assalamualaikum wr.wb
disini saya akan sedikit bercerita mengenai behind the scene pembuatan paper akn kelompok 5. sebelumnya saya perkenalkan kelompok 5 terdiri dari saya sendiri dhindi mahyu prastiwi, kemudian ada farissa asa dieni, dan yogi. awalnya saat pertama kali diberi tugas membuat paper, kita bingung menentukan tema apa yang akan kita ambil. untungnya, salah satu dari anggota kelompok kami yaitu ica memiliki teman yang bekerja di bidang penerbangan. jadi kami sepakat untuk membuat paper dengan tema penerbangan dan dengan metode wawancara. lalu, kita mengambil tema pemanfaatan perkembangan teknologi dan informasi di bidang penerbangan. adapun yang diwawancarai adalah orang-orang yang terkait di bidang penerbangan baik itu co-pilot, angkasa pura, dan lain-lain. yang melakukan wawancara adalah ica baik itu secara tatap muka langsung atau pun lewat media sosial seperti line. sedangkan saya dan yogi bertugas  terkait paper. setelah wawancara dilakukan kita tinggal memasukkan hasil wawancara ke dalam paper. setelah itu dikumpul. namun, ketika itu komentar dari pak  heru  yaitu bahwa topik paper kami terlalu umum sehingga harus diperbaiki dengan tema yang lebih sempit. 
ketika perbaikan kami mengganti topik kami dengan topik yang lebih sempit yaitu tentang Analisis kesiapan penerbangan Indonesia dalam penerapkan sistem Automatic Dependant Surveilllance-Broadcast (ADS-B). ADS-B sendiri adalah sebuah alat pengamat (surveillance) untuk mengetahui
informasi sebuah pesawat terbang (posisi, ketinggian, arah dsb) pada jalurnya dengan akurasi tinggi. pihak-pihak yang diwawancarai juga sama yaitu teman-teman ica yang bekerja di bidang penerbangan. kendala yang dihadapi adalah terkait waktu. karena kami kuliah dan mereka bekerja maka sedikit sulit menentukan waktu untuk melakukan wawancara. lalu setelah ada sedikit waktu luang dan dilakukan wawancara, kami menambahkan hasil wawancara kedalam paper. pada saat itu, pak heru menambahkan saran bahwa sebaiknya di bab kajian literatur ditambahkan lebih banyak mengenai ADS-B dan teknologi sebelum adanya ADS-B. setelah itu kami menyelesaikan paper dan menambahkan saran dari pak heru. selanjutnya, ketika pengumpulan hasil wawancara dibuat dalam bentuk excel. namun pada saat itu saya sedang di opname karena tipes. oleh karena itu ketika pembuatan hasil wawancara dalam bentuk excel saya tidak ikut membantu.
mungkin itu sedikit behind the scene dari pembuatan paper kelompok kami.
wassalamualaikum wr.wb  

Rabu, 17 Juli 2013

Kamu, ketika kamu membaca ini, kamu akan mengerti kenapa aku menuliskannya untukmu. Aku tahu sakitnya seperti apa. Aku pernah disana dan aku pernah merasakannya. Tapi, tidak apa, masih ada banyak doa yang bersamamu. Dan nanti, kita akan mengerti kalau sakitnya hanya sementara. Tapi nanti, bukan sekarang. Bertahan dulu, karena sakitnya pasti berlalu.
Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi sakitmu sudah pergi, bisa jadi juga belum. Tapi, aku harap sakitmu sudah pergi. Aku harap kamu sudah menemukan rahasia 'cara melepaskan dan kembali berjalan'. Kalaupun belum, tidak apa. Suatu hari, kamu pasti akan berjalan lagi. Mungkin dibantu oleh seseorang yang mengajakmu berdiri dan berjalan lagi sampai ke sebuah titik nyaman yang membuatmu sembuh dari rasa sakitmu itu. Yang bersusah payah meyakinkanmu bahwa tidak banyak kebahagiaan di masa lalu. Yang mungkin dia menggandengmu atau memapahmu kalu perlu, asal kamu terus berjalan. Pelan. Selangkah demi selangkah.
Kamu mungkin akan terperosok jatuh, tapi dia akan membantumu berdiri. Kamu mungkin juga akan tertarik kembali ke masa lalu, tapi dia akan tersenyum dan menarikmu menjauh lagi."Kita berjalan dulu", katanya, "Kalau kita tidak suka, kita boleh kembali meratapi masa lalumu." Ketika dia mengatakan itu, dia tahu kamu tidak akan memilih itu. Dia percaya kamu, jauh lebih baik dari kamu memercayai dirimu sendiri.
Pada saat itulah kamu terhenyak dengan kata 'meratapi'. Iya. Kamu ternyata selama ini memang terlalu meratapi. Membuang waktumu hanya untuk terus menghayati setiap rasa sakitnya, kehilangannya, kesedihannya. Kamu lupa, seberapa pun indahnya pemandangan di luar, tidak akan terlihat jelas kalau jendelanya berembun. Harus dibersihkan dulu jendelanya dan lihat keluar. Harus dibersihkan dulu ratapanmu, baru bisa melihat bahwa ada banyak kebahagiaan di depan. Syukurlah kamu menyadari sebelum semuanya terlambat.
Tetapi, kalaupun kamu sudah sampai ke titik nyaman, kadang, lukanya tidak hilang, seringkali justru meninggalkan bekas. Tidak apa, yang penting, sakitnya tidak terasa lagi, bukan? Bisa jadi ketika kamu mengingat bekasnya, malah akan membuatmu bercerita bangga, "Ini luka karena...." dan berakhir dengan, "Pada akhirnya, aku bisa melepaskannya." Lalu kamu tersenyum mengenang betapa jatuhnya kamu ketika itu, tapi ternyata kamu kuat menghadapinya. Kamu bahkan tidak mengira kamu bisa sekuat itu sebelumnya. Sejak itu, sampai membaca tulisan ini (dan semoga juga sampai nanti), kamu selalu tahu bahwa apapun yang terjadi, kamu sebenarnya kuat, kamu hanya jangan fokus pada kejatuhannya, tapi lebih kepada apa yang kamu miliki. Bertahan dan terus berjalan.
Kemudian, pasti nanti, kamu akan bisa bermimpi lagi, dan hei, mungkin juga jatuh cinta atau berbahagia lagi. Menikmati kembali rasa hangat yang serupa seperti sebelum kamu kehilangan. Punya gairah yang meluap-luap dan membuatmu susah terlelap. Kali ini, kamu harus mengejarnya, sekuat kamu bisa. Pantaskan dirimu untuk mimpi dan cinta yang ini, agar kamu tidak gagal atau kehilangan lagi. Oya, jangan lagi sekedar menjadi diri sendiri, itu tidak akan lagi cukup. Jadilah yang terbaik dari diri sendiri. Itu baru cukup, sekedar jadi diri sendiri  akan membuatmu terus mencari alasan bahwa kamu sudah berusaha maksimal dan bahwa inilah apa adanya kamu. Tidak, tidak, kamu bisa melakukan lebih baik dari itu dan kamu tahu benar itu. Jadi berhenti beralasan menjadi diri sendiri dan mulai menjadi yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu.
Kalau pun nanti kamu lelah, itu wajar, tidak apa. Istirahatlah sebentar. Tapi setelah itu, bangun dan berjalanlah lebih cepat lagi, kalau perlu berlari. Sekencang-kencangmu. Demi Tuhan, kejarlah apa yang kamu inginkan dengan apa pun yang kamu bisa. Jangan lagi kehilangan kesempatan. Lakukan saja itu dan jangan dulu mengeluh. Ah, bahkan jangan pernah mengeluh. Mengeluh selalu membuat apa pun yang kamu lakukan malah bertambah berat. Dan setelah berjuang sekeras itu, kalaupun kemudian kamu tidak mendapat mimpi dan cintamu yang ini, tidak apa. Setidaknya, kamu mejadi seseorang yang jauh lebih baik dari kamu yang sebelumnya. Kualitasmu sudah meningkat. Dan percayalah, kamu akan mendapatkan apa yang pantas untukmu. Jadi, semakin baik dirimu, kamu pun akan mendapatkan yang sebaik kamu. Mungkin lebih. Jadi, lelahmu tidak pernah rugi sama sekali. Mungkin kamu juga akan jatuh (lagi), karena untuk mencapai mimpi dan cintamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantammu. Tidak apa. Apapun yang terjadi, kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu. Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia, memang hanya dengan berjalan lagi.
Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik yang hatimu mengatakan, "Ini. Di sini penuh kebahagiaan." Maka, kamu memutuskan untuk berhenti berjalan dan tinggal. Pun ketika itu terjadi, ketika kamu memutuskan berhenti, itu berarti kamu sudah menemukan kebahagiaan. Lalu bagikan. Jangan simpan sendiri. Jangan khawatir, kebahagiaan tidak pernah habis. Ketika membahagiakan, justru kamu menerima lebih banyak kebahagiaan. Sama seperti orangtua yang membelikan anaknya sepeda atau mainan. Anaknya berbahagia, tapi orangtuanya jauh lebih berbahagia. Kebahagiaan itu tidak pernah berkurang ketika dibagikan.
Terakhir, sebelum kamu selesai membaca tulisan ini, kamu harus mengingat satu hal, "Selesaikan apa pun yang kamu mulai". Seperti pertandingan sepak bola. Tidak peduli berapa banyak gol diserangkan ke gawangmu, kamu harus bermain sampai pertandingan selesai. Kamu tidak bisa berhenti di tengahnya hanya karena kamu sudah kemasukan banyak gol dan tidak mungkin menang. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika kamu memang kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kamu menang.
Ini bukan ramalan, ini hanya tulisan. Kamu akan membacanya di masa depan. Entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini. Yang penting, ketika kamu membaca surat ini, kamu ingat, bahwa kamu juga yang menulis surat ini. Dan kamu tahu bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi, seperti yang kamu tuliskan sekarang ini, jatuhnya, sakitnya, perjuangannya, semuanya.


- The Amazing of Ikhlas   

Jumat, 01 Maret 2013



Gadis muda itu ternyata adalah batu karang. Ia memang tidak cantik. Ia hanyalah seonggok batu yang tampaknya tak terlalu baik. Ia sudah di situ. Mencintai laut, sejak kemarin, kemarin, dan kemarin.
Hingga pelangi muncul di langit mendung. Dengan senyuman ia memberikan harapan pada gadis muda itu. Harapan untuk keluar dari luka hati yang ia kira takkan pernah sembuh.

Senin, 07 Mei 2012

Rahasiaku dengan Tuhan

”Ya Allah…dari setiap tetes air mataku yang mengalir saat ini atau sebelumnya, dari suara gerak bibirku selama aku masih mampu menggerakkannya, dan dari setiap detak jantungku selama Kau masih menghendakinya, kuniatkan hanya untukMu Ya Allah….”, ”Tunjukkan aku jalanMu, sinari hatiku melebihi sinar matahariMu, agar aku mampu mengemban setiap amanahMu”.

”Sudah berusaha kutujukan tiap perasaan dan ingatanku kepadaMu, tapi aku tidak bisa mengelak jika ada perasaan lain yang tanpa sengaja terkadang mengganggu dan mengurangi dzikirku, cintaku pada hambaMu. Hamba yang sudah Engkau ciptakan secara berpasangan, yang sudah Engkau janjikan”.

”Aku mencintainya….”,”Kau sudah menanamkan cinta di setiap dada manusia, hingga cinta itu subur bercabang dengan ranting perasaan suci dan bahkan menjadi nafsu yang menyesatkan. Aku tidak mau cintaku kepada yang lain mengalahkan cintaku padaMu. Maka ridhailah cintaku………”, kuakhiri doaku dengan tangis tersedu tak mampu menahan rasa berdosa telah menduakan cinta kepada Allah.

”Izinkan aku menangisi cinta selain padaMu…sekali ini saja…

Saat aku membuka mata dari tidur yang melelapkanku, hal pertama yang kuingat seharusnya hanya Allah, tapi tidak begitu kenyataannya. Akhir-akhir ini aku sering terbangun dari tidurku karena mimpi yang berujung pada bisikan namanya. Sungguh aku ingin menghindarinya, aku tidak ingin imanku lemah karena terus mengingat nama dan wajah yang menjadi sebab konflik batin di hatiku.

Aku merasa sebagai seorang yang munafik karena tampil dengan jubah malaikat padahal hatiku penuh iblis dan otakku sesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru bertentangan dengan apa yang selama ini aku pelajari dan aku ajarkan pula kepada orang lain. Aku serukan kepada mereka untuk tidak mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah, untuk tidak merasa tentram kepada selain Allah dan untuk senantiasa bernafas dengan lafadz Allah sebagai oksigen dan Muhammad sebagai karbondioksidanya. Aku merasa telah mendustai kata-kataku sendiri, tidak lebih dari seorang penyair yang mampu merangkai kata-kata indah untuk menutupi kebohongan-kebohongan menyesatkan di balik syair yang mereka tuliskan. Saat aku renungi ini sebelum tidurku, aku tak mampu pejamkan mata karena airnya memenuhi setiap sudut dalam kelopak mataku. Kuredakan semuanya dengan shalat dan doa karena hanya itu penawarnya.


Kini aku berlutut di hadapanMu,

Menumpahkan luap pinta di dadaku, 
Cintakan aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku untuk semakin mencintaiMu. 
Izinkan aku menyentuh hati seseorang yang tertaut hatinya padaMu, agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu.
Rindukan aku pada seseorang yang merindukan syahid di jalanMu, 
Biarkan hatiku menuntaskan kerinduan hanya kepadaMu.


”Rabb, kumohon tuntunlah tiap perasaan, pemikiran dan langkahku. Ke manapun Engkau kehendaki, kuturuti…karena itu pasti yang terbaik untukku…”

Aku tidak suka air mata, kecuali yang menetes dalam doa…